Kegiatan ini diikuti lebih dari 30 tokoh masyarakat, dengan tujuan menjadi titik awal lahirnya budaya sadar bencana yang lebih solid di Desa Cijeruk, dengan didukung oleh konsep teknis yang kuat.
Kondisi geografis Desa Cijeruk didominasi lahan berbukit curam. Kondisi ini menuntut adanya perencanaan mitigasi yang matang guna meminimalisir risiko jatuhnya korban maupun kerugian materiil. Dalam paparannya, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana ARM HA-IPB, Ir. Kusnadi, yang bertindak sebagai pemateri sekaligus narasumber utama, menjelaskan bahwa mitigasi bukan sekadar teori melainkan juga pengelolaan hubungan antara manusia dan lingkungannya.
“Kepentingan ekonomi dan konservasi wajib dikelola supaya tercipta hubungan yang harmonis antara alam, lingkungan, dan kita yang hidup di dalamnya,” tegas Kusnadi. Konsep yang ditawarkan ARM HA-IPB menitikberatkan pada kesadaran kolektif warga untuk menjaga stabilitas alam demi keberlangsungan hidup jangka panjang.
Mahasiswa yang tergabung dalam Tim KKNT IPB University melengkapi konsep mitigasi yang disusun ARM HA-IPB tersebut dengan menerjemahkannya ke dalam Peta Kerawanan Bencana Desa Cijeruk. Hasil pemetaan ini diserahkan kepada Pemerintah Desa untuk menjadi rujukan resmi dalam perencanaan pembangunan desa di masa depan.
Kepala Desa Cijeruk, Haji Asep Saepul Rohman, S.IP., menyatakan rasa terima kasihnya atas bantuan konsep dan pendampingan yang ARM HA-IPB dan Mahasiswa KKNT berikan. Ia berharap ilmu yang dibagikan dapat benar-benar diserap oleh para pengurus Desa Tanggap Bencana (Destana), ketua RW, dan ketua RT yang berpartisipasi dalam acara tersebut.
Selain edukasi dan pemetaan, langkah mitigasi juga mencakup aksi reboisasi atau penanaman kembali di titik-titik kritis di Kawasan Cijeruk. Ini menjadi bagian dari strategi “mitigasi hijau” untuk memperkuat struktur tanah secara alami.
Ketua Desa Tanggap Bencana (Destana) Cijeruk, Abdul Qodir Zaelani, berharap kolaborasi dengan ARM HA-IPB berlanjut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mitigasi bencana di Desa Cijeruk.