Armhaipb.id, Padang– Pertama, tentu meninjau packing paket obat-obatan, yang rencananya digunakan untuk operasi layanan Kesehatan di 13 kabupaten/kota yang terdampak banjir. Yang kedua, ini yang menarik, tim ARM dan DPD HA IPB Sumbar juga mengecek kendaraan lapangan unggulan miik PMI. Namanya Hagglunds. Makhluk apa itu?
Hagglunds adalah kendaraan segala medan (all terrain vehicle) buatan Swedia yang dirancang untuk menjelajah kondisi ekstrem mulai daerah bersalju, sungai, permukaan bebatuan, melintsi air dalam, hingga bermanuver di kawasan lumpur dan puing pascabencana. Tim ARM dan HA IPB tentu terkagum-kagum dengan model dan penampakan kendaraan taktis ini.
Saya kebetulan bekerja di Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah selama 12 tahun, dan ikut dalam berbagai misi kemanusiaan bersama PMI Pusat dan daerah. Seingat saya, PMI diperkuat kendaraan ini atas jasa Pak JK, kalau tak salah tahun 2010, tak lama setelah beliau menjabat sebagai Ketua Umum PMI. Dan memang Hagglunds menjadi andalan di berbagai medan bencana. Di erupsi Merapi, 2010, ketika kendaraan lain lumpuh, Hagglunds mampu menembus kawasan penuh lumpur panas untuk evakuasi dan transportasi barang bantuan.
Para relawan ARM HA-IPB sebagian mengenal Hagglunds saat pertama terjun di operasi tanggap darurat banjir Cileuksa, Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya. Saat menurunkan barang dan membawanya ke Posko, beberapa relawan melihat sosok Hagglunds ini, putih, gagah, mentereng. Lalu mulai bertanya-tanya pada kru PMI yang mengoperasikannya.
Saya sendiri punya memori Kocak dengan Hagglunds. Ketika Pameran AMMCDR 2012, PMI memamerkan Hagglunds di booth luasnya, dalam bentuk asli, penuh lumpur, spion pecah satu, rantai penuh lumpur. Eh menjelang Maghrib, ada inspeksi dari Pangdam setempat. Ia melihat Hagglunds dan bertanya, siapa yang bertanggung jawab mengurus booth PMI. Saya maju memperkenalkan diri.
Eh, Pak Jenderal agak kurang suka kalau Hagglunds dipamerkan apa adanya. “Nanti malu kalau Pak Presiden sidak, lihat kendaraan tidak bersih,” demikian alasannya. Saya sopan bertanya, lalu apa yang mesti kami lakukan? “Cuci, cat ulang, perbaiki spion pecah, dan rantai-rantainya disemir!” perintahnya.
Waduh, kerjaan baru nih. Lalu saya minta para relawan membeli cat Pylox putih untuk bodi Hagglunds berikut cat hitam untuk memoles roda rantai karetnya yang mahatebal. Saya ikut bantu mengecat dan menyemir, hingga menjelang tengah malam, kendaraan itu siap tampil kinclong. Ada-ada saja.
Yang jelas, kendaraan inilah yang bisa digunakan untuk mengantarkan obat-obatan ke lokasi ekstrem terisolasi, jika diperlukan. Hati para para darmawan donatur ARM HA-IPB bisa tenang karena bantuan Insya Allah bisa disampaikan kepada mereka yang membutuhkan.
Bravo PMI! Bravo ARM! Bravo Himpunan Alumni IPB!