ARM HA-IPB, KABUL, AFGHANISTAN — Afghanistan kembali berduka setelah gempa bumi berkekuatan 6.0 magnitudo melanda provinsi timur Kunar dan Nangarhar pada Minggu malam. Gempa ini menyebabkan sedikitnya 800 orang meninggal dan lebih dari 1.800 lainnya terluka, dengan jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat. Gempa ini terasa hingga ke ibu kota Kabul dan negara tetangga, Pakistan.
Gempa tersebut, yang memiliki pusat gempa dangkal hanya 8 km di bawah permukaan bumi, sangat merusak, terutama karena banyak bangunan di wilayah tersebut tidak tahan gempa. Ketua Umum Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB), Ir. Ahmad Husein, M.Si., menyoroti kurangnya perhatian publik terhadap tragedi kemanusiaan ini.
Tantangan di Lapangan
Upaya pencarian dan penyelamatan korban menghadapi kendala besar di wilayah pegunungan yang terjal, di mana jalanan sempit tertutup oleh tanah longsor akibat gempa. Ehsanullah Ehsan, kepala manajemen bencana provinsi Kunar, menyatakan bahwa tim penyelamat kesulitan memprediksi jumlah jenazah yang masih terjebak dan berupaya secepatnya mendistribusikan bantuan. Hingga saat ini, helikopter menjadi satu-satunya cara efektif untuk mengevakuasi korban luka, dan fasilitas medis di sekitar pusat gempa, seperti di Jalalabad, kewalahan menangani lonjakan pasien.
Bencana ini juga memperburuk kerentanan perempuan dan anak perempuan dalam mendapatkan perawatan medis karena kendala budaya di wilayah konservatif seperti Kunar. Deepmala Mahla dari organisasi kemanusiaan CARE menekankan pentingnya kehadiran pekerja bantuan perempuan.
Respons Internasional dan Peringatan Misinformasi
Tragedi ini terjadi di tengah kondisi ekonomi Afghanistan yang sudah terpuruk akibat kekeringan parah dan pemotongan bantuan. Sejumlah negara dan organisasi internasional telah merespons dengan menjanjikan bantuan darurat. Inggris mengumumkan dana sebesar £1 juta yang akan disalurkan melalui mitra seperti PBB dan Palang Merah Internasional. India juga mengirimkan 1.000 tenda keluarga dan 15 ton makanan ke provinsi Kunar. Sementara itu, PBB telah melepaskan dana awal sebesar $5 juta dari dana tanggap darurat global. Namun, seorang dokter di Asadabad, Kunar, mengungkapkan bahwa hingga saat ini bantuan yang dijanjikan belum tiba di lapangan.
Di tengah situasi ini, beredar pula misinformasi berupa gambar-gambar palsu yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) di media sosial. BBC Verify menemukan beberapa gambar yang direkayasa disebarkan sebagai bukti kehancuran akibat gempa. Hal ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi di masa krisis.